Tafsir al-Qur'an di Aceh: Sebuah Pengantar
Identitas Buku:
|
Penulis |
: |
Muhammad Syahrial Razali Ibrahim |
|
Kategori |
: |
Keislaman |
|
Penerbit |
: |
Penerbit Nahrasiyah |
|
Terbit |
: |
1 Desember 2025 |
|
ISBN |
: |
On Process |
|
Laman |
: |
181 halaman |
|
Ukuran |
: |
15 x 23 cm |
|
Editor |
: |
Awis Hardjito & Ja'far |
Sinopsis: Buku Tafsir al-Qur’an di Aceh: Sebuah Pengantar merupakan kajian awal yang bersifat umum, mengingat belum adanya penelitian sebelumnya yang secara khusus membahas tema ini. Kajian tafsir al-Qur’an di Aceh telah mengalami perkembangan yang menggembirakan sejak penulisan kitab tafsir Tarjumān al-Mustafīd karya Syaikh ‘Abdul Ra’ūf ‘Alī al-Fanṣūrī pada abad ke-17 Masehi. Perkembangan tersebut juga ditandai dengan dijadikannya tafsir al-Qur’an sebagai salah satu mata pelajaran wajib di sebagian besar lembaga pendidikan Islam yang ada di Aceh saat ini. Kemunculan sejumlah karya tafsir dan terjemahan al-Qur’an, serta berbagai tulisan lain yang berkaitan dengan al-Qur’an dan tafsir pada akhir abad ke-20 Masehi, semakin mendorong kemajuan studi dan penulisan tafsir, meskipun sebelumnya sempat mengalami masa kemunduran selama beberapa dekade. Namun, di balik kemajuan tersebut, dalam satu dekade terakhir kajian dan penulisan tafsir justru menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Kajian dan penulisan tafsir tidak lagi memperoleh perhatian dan ruang yang semestinya di kalangan masyarakat lokal. Hal ini terlihat dari minimnya karya yang dihasilkan oleh kalangan akademisi di bidang ini. Bahkan, beberapa karya tafsir dan terjemahan al-Qur’an yang ditulis oleh ulama Aceh kurang mendapat perhatian dari para sarjana lokal, sehingga justru lebih banyak dikaji oleh peneliti dari luar Aceh. Selain itu, terbatasnya majelis ilmu yang menyelenggarakan pengajian tafsir semakin memperkuat indikasi bahwa kajian tafsir kian terpinggirkan. Buku ini berargumen bahwa salah satu faktor utama yang menyebabkan lemahnya kajian dan penulisan tafsir adalah sistem pengajaran tafsir yang saat ini diterapkan di Aceh belum mencapai tingkat optimal. Faktor lain yang turut berpengaruh adalah sikap pasif sebagian ulama terhadap pengajian tafsir serta memudarnya budaya menulis di kalangan mereka. Sementara itu, kajian terhadap penulisan kitab-kitab tafsir menunjukkan bahwa sistematika penulisan sejumlah karya tersebut tergolong baik dan memiliki daya tarik tersendiri.